
hari kemarin, sebuah renungan baru tampak dalam hidup ku.aku duduk disebuah atap rumah waktu malam hari dan melihat beberapa anak yang berlari dibawah ku. sebuah keceriaan yang telah lama hilang dalam diriku. mungkin aku terlalu serius menjalani hidup atau aku memang pecudang yang selalu hiseris ketika melihat masa depanku.
teringat kembali kemasa yang tak pernah bisa ku jalani. aku tak ingat betul kapan itu namun aku hanya tahu ketika itu usia ku 11 tahun, waktu selalu berjalan cepat. bukankah itu yang selalu ku inginkan setiap waktu. aku mendengar pertengkaran orang tuaku. beberapa tahun yang lalu aku selalu merindukan dan menginginkan aku memiliki orang tua yang bisa membuatku nyaman atau mungkin merasa aman. namun ketika itu aku seperti satu-satunya anak yang terjebak diantara perang ego mereka. aku hanya memikirkan, ini karena aku... semua ini karena aku. sering kali untuk membuat semua hilang dari pikiranku untuk sejenak, ku coba tertawa bersama teman-teman sebayaku. itu adalah hal yang tersulit, seperti memandang sahabat yang awalnya adalah kekasih.
sewaktu itu, aku benar-benar down! jatuh! linglung harus kemana ku lalui. ketika ku, benar-benar sadar. aku lupa apakah aku benar atau tidak. semua tampak samar dimataku. mereka saling menceritakan versi kisah mereka. tapi 1 yang percaya adalah aku harus tetap disana. karena aku tidak memiliki, siapapun selain mereka. apapun yang terjadi, mereka tetap orang tuaku, meskipun masa-masa kecil ku tidak sehebat teman-temanku. mungkin pernikahan dini yang mereka lakukan adalah kunci pertengkaran mereka. ego yang sulit ku pahami hingga kini. semoga kelak kisah ini tidak pernah terjadi kembali pada anak-anak ku. ku harap, semua dunia ku akan tertawa setelah ini.

0 comments:
Post a Comment